Buah kepel merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia
yang unik, dikenal sebagai flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta dengan
nilai budaya dan kesehatan tinggi. Tanaman ini kini semakin langka, namun
potensinya besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
Asal dan Penyebaran
Kepel (Stelechocarpus burahol) berasal dari Asia Tenggara
hingga Australia, dengan penyebaran utama di Indonesia seperti Jawa, Sumatra,
Bali, dan Kalimantan. Di Jawa, tanaman ini tumbuh liar di hutan sekunder pada
ketinggian 150-600 meter di atas permukaan laut, termasuk di Magelang dan Taman
Nasional Meru Betiri. Nama lokalnya beragam, seperti kecindul, simpol, cindul,
burahol, atau turalak.
Karakteristik Fisik
Pohon kepel bisa mencapai tinggi besar dengan daun hijau
lebat, dan ciri uniknya adalah bunga serta buah yang tumbuh langsung di batang
(cauliflory). Buahnya lonjong berwarna kecokelatan seperti sawo, berukuran
sebesar kepalan tangan, dengan kulit tipis, daging lembut, aroma kuat, dan rasa
manis unik. Pohon baru berbuah setelah 8 tahun, membuatnya sulit dibudidayakan
secara massal.
Sejarah Budaya
Sejak era keraton Jawa, kepel menjadi favorit putri
kerajaan karena dipercaya membuat keringat beraroma wangi dan mengurangi bau
tidak sedap pada air seni. Dahulu hanya boleh ditanam oleh kalangan bangsawan,
menciptakan mitos yang membuatnya langka hingga kini. Kini menjadi simbol
identitas Yogyakarta dan ditemukan di Kebun Raya Bogor serta Purwodadi.
Manfaat Kesehatan
Buah kepel kaya nutrisi dan digunakan sebagai obat
tradisional untuk kecantikan, deodoran alami, serta mengatasi masalah
pencernian. Kandungannya mendukung kesehatan kulit, pencernaan, dan potensial
untuk industri farmasi serta kosmetik. Selain buah, kayunya juga dimanfaatkan,
sementara daunnya untuk jamu.
Tantangan dan Peluang
Kelangkaan kepel disebabkan masa panen panjang dan nilai
ekonomi rendah jangka pendek, ditambah mitos budaya. Namun, peluangnya terbuka
di sektor kosmetik dan obat-obatan, dengan upaya konservasi di Yogyakarta.
Budidaya modern bisa menyelamatkan tanaman langka ini untuk generasi mendatang.
Komentar
Posting Komentar